Jumat, 08 Juli 2011

MAKALAH PENJASKES

Pengaruh Metode Latihan dan Asam Laktat terhadap Hasil Belajar
Renang 100 Meter Gaya Bebas

James Tangkudung∗)

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara
metode latihan interval dan metode latihan kontinu terhadap hasil belajar renang
100 meter gaya bebas. Disamping itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui
pengaruh asam laktat terhadap kedua metode latihan tersebut. Kadar asam laktat
dibagi menjadi asam laktat tinggi dan asam laktat rendah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (a) secara keseluruhan, hasil belajar renang 100 meter gaya
bebas dengan metode interval lebih tinggi dari metode kontinu; (b) bagi mahasiswa
yang memiliki kadar asam laktat tinggi, hasil belajar renang 100 meter gaya bebas
dengan metode interval lebih tinggi dibandingkan dengan metode kontinu; (c) bagi
mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat rendah, hasil belajar renang 100 meter
gaya bebas dengan metode kontinu lebih tinggi dibandingkan dengan metode
interval; (d) terdapat interaksi antara metode latihan dengan kadar asam laktat.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen
dengan menggunakan rancangan Faktorial 2x2. Sedangkan populasi dalam
penelitian adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Jakarta (FIK UNJ) dengan sampel penelitian mahasiswa angkatan 2004 tahun
akademik 2004/2005 yang berjumlah 40 mahasiswa putera. Berdasarkan temuan
penelitian ini, disarankan kepada para peneliti agar dilakukan penelitian yang sama
terhadap sampel wanita serta gaya renang lainnya. Dengan tidak terujinya hipotesis
pertama dan ketiga, disarankan kepada para peneliti agar meneliti ulang dengan
metodologi penelitian yang lebih disempurnakan.

Kata kunci: metode latihan, asam laktat, hasil belajar, renang, dan gaya bebas


1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta (FIK UNJ)
merupakan lembaga pendidikan olahraga yang memberikan pengetahuan, sikap, dan

∗)
Dr. dr. James Tangkudung, Sportmed, M.Pd. adalah dosen pada Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Jakarta dan Asisten Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

keterampilan kepada mahasiswa. Lulusan FIK UNJ diharapkan dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang keolahragaan. Lulusan FIK UNJ
diharapkan kelak dapat menjadi tenaga pengajar yang berkompeten dan profesional
dalam bidang olahraga. Di samping itu, mereka diharapkan menjadi tenaga pendidik,
pelatih, dan pembina olahraga.
FIK UNJ memiliki beberapa jurusan, yaitu (1) Somakinetika (2)
Antropokinetika, dan (3) Sosiokinetika. Mata kuliah renang diberikan di seluruh
program studi di FIK UNJ yang dilatar-belakangi oleh tujuan fakultas, yaitu
menghasilkan pendidik olahraga kesehatan, pelatih, dan pembina olahraga untuk
seluruh jenjang pendidikan formal. Dari hasil pembelajaran, diharapkan para lulusan
memiliki kemampuan dan keterampilan berenang empat gaya (gaya bebas, gaya
punggung, gaya kupu-kupu, dan gaya dada), dasar-dasar loncat indah dan polo air,
mengenal teknik-teknik, dan mampu memberikan pertolongan pada kecelakaan di air,
serta dapat mengajarkannya.
Mata kuliah renang terdiri atas (1) renang I, mempelajari renang gaya bebas
ditambah gaya punggung, (2) renang II, mempelajari renang gaya dada dan gaya
kupu-kupu, dan (3) renang III, mempelajari renang pertolongan.
Pada renang I, mahasiswa dituntut memiliki penampilan dan keterampilan
berenang gaya bebas dan gaya punggung, serta memahami tentang sejarah renang dan
metodik mengajar renang gaya bebas dan gaya punggung.
Hasil belajar renang diharapkan mengarah kepada perubahan keterampilan
gerak (motorik). Perubahan gerak tersebut merupakan perubahan ke arah yang lebih

baik dalam meningkatkan kemampuan keterampilan renang. Informasi mengenai
hasil belajar renang dapat diketahui melalui penampilan, karena penampilan dan
keterampilan adalah perlakuan gerak yang dapat diamati.
Pelaksanaan pengajaran renang mengalami perubahan dari satu masa ke masa
berikutnya. Bentuk latihan pun berkembang. Tujuan pengembangan adalah agar
bentuk-bentuk gerakan dan bentuk gaya yang dipelajari dapat berhasil dengan baik
dan sempurna. Walaupun perkembangan dan bentuk latihan bertambah pesat sampai
saat ini, namun materi yang diajarkan untuk membentuk performan dan keterampilan
tidak berubah, dan masih berpatokan pada pendapat Tjiang dan Tarigan (1956) yang
membagi dan membedakan bentuk gerakan kaki, gerakan lengan, gerakan mengambil
nafas, dan latihan keseluruhan.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di dalam cabang olahraga
renang, renang gaya bebas adalah gaya renang yang harus diprioritaskan untuk
diajarkan pertama kali bagi para perenang pemula, karena (1) gaya bebas merupakan
gaya renang yang pada umumnya mempunyai gerakan-gerakan yang mengarah lurus,
dengan demikian secara logika gerakan tersebut lebih mudah untuk dipelajari
dibandingkan gerakan-gerakan yang membengkok, (2) gerakan kaki dalam gaya
bebas akan lebih sesuai dengan gerakan kaki kita pada saat berjalan.
Kualitas belajar dan latihan akan terlihat pada bentuk dan fungsi yang
diinginkan dalam hasil belajar berenang. Untuk mencapai hasil belajar berenang
tentunya diperlukan suatu proses yang relatif lama.

Di dalam perlombaan renang gaya bebas ada bermacam-macam kategori jarak
tempuh dalam perlombaan renang, yaitu jarak pendek 50 meter dan 100 meter, jarak
menengah 200 meter dan 400 meter, dan jarak jauh 800 meter dan 1500 meter.
Untuk peningkatan hasil belajar, dibutuhkan bentuk latihan yang sesuai
dengan kekhususan dalam jarak tempuh berenang. Perenang yang ingin mempunyai
hasil belajar berenang cepat, misalnya berenang 100 meter, harus mempunyai daya
tahan anaerob dan aerob yang tinggi. Berenang cepat 100 meter memakai sistem
energi kadar asam laktat yang lebih dominan dibandingkan dengan kemampuan
berenang jarak jauh. Berenang jarak jauh lebih dominan mempergunakan
kemampuan daya tahan aerob.
Oleh karena itu, latihan berenang selain mempergunakan latihan aerob, yaitu
latihan yang memerlukan waktu latihan yang cukup lama dengan intensitas sedang,
diberikan pula latihan anaerob, yaitu latihan yang memakai frekuensi waktu cepat
dengan intensitas tinggi. Metode latihan aerob dan anaerob biasanya diberikan pada
bentuk metode interval (terputus), metode latihan terus menerus, metode latihan
sirkuit, serta metode latihan berenang cepat.
Penelitian ini akan mengkaji metode latihan berenang, yaitu metode latihan
interval (terputus) dan metode latihan terus menerus atau kontinu terhadap hasil
belajar renang cepat 100 meter.
Berdasarkan pengamatan, masih banyak mahasiswa mengalami kesulitan di
dalam mengikuti belajar berenang, di mana terlihat teknik gaya dan waktu berenang
belum memadai, terutama untuk berenang cepat 100 meter. Dalam hal ini, tentunya

banyak faktor penghambat atau permasalahan, antara lain terletak pada pendekatan
metode latihan yang digunakan dan tidak mengikutsertakan kemampuan sistem
energi asam laktat tubuh.
Sebagai bahan pertimbangan, tentunya perlu diteliti antara metode latihan
interval dengan metode latihan kontinu terhadap hasil belajar renang 100 meter gaya
bebas. Dengan demikian, akan ditemukan data empiris tentang hasil renang 100 meter
gaya bebas, tentang keefektifan metode latihan dalam peningkatan penimbunan asam
laktat pada tubuh.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukan di atas, masalah
penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas antara
metode interval dengan metode kontinu?
2) Bagi mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat tinggi, apakah terdapat
perbedaan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas antara metode interval
dengan metode kontinu?
3) Bagi mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat rendah, apakah terdapat
perbedaan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas antara metode interval
dengan metode kontinu?
4) Apakah terdapat interaksi antara metode latihan dengan kadar asam laktat
terhadap hasil belajar renang 100 meter


1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu latihan renang bagi
mahasiswa, baik dalam kegiatan intra kurikuler maupun ekstra kurikuler. Disamping
itu, penelitian ini diharapkan dapat menemukan pilihan lain bagi pengajar untuk
memilih metode latihan yang tepat untuk mahasiswa belajar renang 100 meter gaya
bebas.

2. Kajian Literatur
2.1 Hakikat Renang Gaya Bebas
Pengertian Berenang gaya bebas menurut PB PRSI (1994) adalah berenang
dengan gaya yang sebebas-bebasnya, tidak terkait dengan gaya berenang. Hal senada
juga dikemukakan oleh Larrabee (1987) bahwa renang gaya bebas adalah berenang
yang menggunakan gaya dengan bebas. Menurut Thomas (1996), dalam freestyle atau
renang gaya bebas, kebanyakan perenang mengayunkan tangan lewat atas permukaan
air (craw) karena renang gaya demikian memiliki tingkat kecepatan lebih tinggi
dibandingkan dengan gaya berenang yang lainnya.
2.2 Hakikat Hasil Belajar Renang
Hasil belajar renang menurut Magill (1980) adalah perubahan keadaan dalam
diri seseorang yang diduga dapat meningkatkan secara relatif permanen dalam bentuk
penampilan sebagai hasil latihan. Kemudian Stone J (1991) mengemukakan bahwa
belajar mencerminkan perubahan-perubahan atau perubahan perilaku yang potensial
sebagai akibat dari latihan dan pengalaman masa lalu terhadap situasi tugas tertentu.

Sedangkan menurut Schmidt (1988) belajar adalah suatu proses perolehan
kemampuan untuk menghasilkan keterampilan gerak yang terjadi sebagai hasil
langsung dari latihan atau pengalaman dan prosesnya tidak dapat dilihat secara
langsung dan diperkirakan menghasilkan perubahan yang relatif permanen pada
kemampuan perilaku keterampilan. Dengan demikian dari beberapa pendapat yang
telah dikemukan, hasil belajar renang adalah hasil partisipasi otot besar dalam
aktivitas fisik.
Berdasarkan pengertian dan pendapat tersebut di atas, hasil program
pengajaran renang diharapkan mengarah pada perubahan keterampilan gerak.
Perubahan keterampilan gerak yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih
baik untuk meningkatkan kemampuan keterampilan renang gaya bebas. Informasi
mengenai kemajuan atau hasil belajar dapat diketahui melalui penampilan gerak
renang sampai pada tujuan dengan jarak dan waktu tertentu, misalnya berenang 100
meter.
2.3 Hakikat Asam laktat (Sistem Energi)
Energi adalah daya untuk melakukan kerja dan diukur dengan satuan panas
kilokalori (Kkal). Satu Kkal adalah banyaknya panas yang dibutuhkan untuk
menaikkan temperatur 1 liter air dalam 1 celcius. Energi ada dua bentuk, yaitu energi
potensial dan energi kinetik. Energi potensial adalah energi yang disimpan dalam
bentuk panas dan listrik, serta berada dalam susunan bahan kimia seperti bahan
makanan. Sedangkan energi kinetik adalah energi gerak yang dapat diamati di dalam
kegiatan olahraga.

Menurut Fox (1992), energi didefinisikan sebagai kapasitas atau kemampuan
untuk melakukan kerja, sedangkan kerja didefinisikan sebagai penerapan dari suatu
gaya melalui suatu jarak tertentu. Kedua energi tersebut dibutuhkan untuk berenang.
Sedangkan menurut Troup dan Reese (1983), energi yang dikeluarkan bisa
kurang cepat dikarenakan oleh hambatan gerakan tubuh, teknik renang kurang,
kecakapan berlatih kurang, dan kurang gerakan biomekanik. Selanjutnya gerakan
berenang sangat dipengaruhi oleh energi, yaitu harga energi dari gerakan kaki,
gerakan tangan, dan gerakan keseluruhan yang ditentukan empat gerakan tersebut.
Lebih lanjut Fox (1981) mengatakan bahwa terdapat tiga sistem energi. Ketiga
sistem energi tersebut adalah 1) ATP-PC atau alactacid, 2) sistem asam laktat
(lactacid), dan 3) sistem oksigen (aerobik). Sistem energi tersebut dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1: Karakteristik Sistem Energi

Sistem ATP-PC Sistem Asam Laktat Sistem Oksigen
Anaerobik (alactacid)

Diperlukan waktu kira-kira
kurang dari 30 detik (renang
cepat/sprint)

Bahan baker: fosfat energi
tinggi

Produksi ATP terbatas

Penyimpanan ATP terbatas
Anaerobik (Lactacid)

Diperlukan waktu kira-kira
30 detik hingga 3 menit
(renang cepat jarak
menengah)

Bahan bakar: karbohidrat

Produksi ATP terbatas

Penyimpanan asam laktat
terbatas penyebab kelelahan
otot
Aerobik

Diperlukan waktu kira-kira
lebih dari tiga menit (renang
jarak jauh)

Bahan bakar: lemak, protein,
karbohidrat

Produksi ATP tidak terbatas

Tidak menimbulkan
kelelahan
(Sumber: Fox, 1981)


Dengan demikian, konsentrasi laktat merupakan metode pengukuran enzim
yang cocok pada darah sesuai dengan prosedur yang telah dilakukan oleh Costill
(1994) dan disebut sebagai OBLA (onset of blood lactate accumulation). Bila
konsentrasi laktat dalam darah sampai 3,9 mmol/l dikategorikan rendah dan 4 mmol/l
dikategorikan tinggi. Kadar laktat dalam darah digunakan sebagai indikator
pencapaian latihan akibat aktivitas yang dilakukan.
2.4 Hakikat Metode Latihan
Metode adalah suatu cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai
tujuan. Metode adalah cara yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Sedangkan latihan atau training adalah suatu proses berlatih yang sistematis dan
dilakukan secara berulang-ulang.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara
kerja yang sistematis untuk memudahkan pelaksanaan proses belajar mengajar dan
sebagai alat menyajikan isi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan.
Latihan adalah kegiatan olahraga yang sistematis yang bertujuan
meningkatkan fungsi fisiologis dan psikologis untuk mencapai tugas yang dituntut.
Ini berarti bahwa suatu latihan menuntut suatu penyesuaian dari tubuh. Dengan
demikian, latihan adalah proses kegiatan siswa dalam rangka menerapkan konsep,
prinsip, dan prosedur yang sedang dipelajarinya ke dalam praktik yang relevan
dengan pekerjaan. Latihan mengakibatkan adaptasi fungsi fisiologis agar penampilan
lebih baik pada suatu penampilan yang khusus. Disamping itu, latihan merupakan

proses penyempurnaan yang dilakukan secara teratur dan sistematis yang didasarkan
pada prinsip-prinsip latihan dan bertujuan meningkatkan kapasitas penampilan.
Dari pengertian-pengertian mengenai metode dan latihan yang telah
dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode latihan adalah suatu cara yang
sistematis dan terencana, yang fungsinya sebagai alat menyajikan kegiatan-kegiatan
untuk meningkatkan fungsi fisiologis, psikologis, dan keterampilan gerak agar pada
penampilan khususnya akan menjadi lebih baik.
Mengingat setiap metode latihan memiliki keistimewaan tersendiri, maka
penggunaan metode latihan yang tepat dalam meningkatkan kemampuan renang cepat
100 meter perlu diperhatikan. Dari kedua metode latihan ini, Colwin (1992) lebih
mengunggulkan metode latihan interval dibandingkan latihan kontinu, karena (1)
latihan interval lebih intensif dan ini mengakibatkan stimulus pada otot lebih kuat; (2)
latihan interval lebih mengontrol lamanya usaha dan intensitas stimulus.
1) Latihan selang istirahat (interval). Beberapa waktu belakangan ini latihan
selang istirahat (interval training) memberikan pengaruh yang besar terhadap
metode latihan olahraga. Latihan selang istirahat adalah kerja dan periode
istirahat yang berganti-ganti dalam satu sesi latihan. Latihan selang istirahat
menururt Maglischo (1982) adalah latihan khusus berenang berulang-ulang, di
mana ulangan berenang telah ditentukan dengan periode waktu istirahat diantara
renangan. Hal yang sama dinyatakan oleh Counsilman (1994) bahwa latihan
selang istirahat adalah satu rentetan pengulangan berenang dengan jarak yang
telah ditentukan dengan mengontrol jumlah jarak rentangan antara waktu istirahat

dengan waktu berenang. Selanjutnya Willmore et al. (1994) menyatakan bahwa
latihan interval adalah latihan dengan periode yang pendek dan diselingi dengan
waktu istirahat. Jarak latihan selang istirahat tidak melebihi jarak nomor
perlombaan yang diikuti. Pada waktu latihan selang istirahat, waktunya harus
dipertahankan. Ada empat variabel perlakuan di dalam tiap rentetan latihan selang
istirahat, yaitu (a) jumlah jarak renangan, (b) jarak tiap renangan, (c) kecepatan
berenang, dan (d) jarak panjang waktu selang istirahat tiap renangan. Menurut
Counsilman dan Briand (1994), ada dua macam bentuk latihan selang istirahat,
yaitu (1) latihan selang istirahat lambat; waktu istirahat pada tiap ulangan lebih
pendek dan tidak teratur, denyut nadi setelah mengerjakan berenang adalah 165-180 per menit, dan (2) latihan selang istirahat cepat; yang diutamakan pada
latihan ini adalah kecepatan berenang, waktu istirahat tidak tetap, tetapi lebih
lama bila dibandingkan dengan latihan selang istirahat lambat. Pada waktu
istirahat, detak jantung pulih kembali mendekati keadaan normal, denyut nadi ke
ulangan berikutnya 120-140 per menit, waktu berenang menjadi lebih cepat
dibandingkan dengan selang istirahat lambat.
2) Metode latihan kontinu. Metode latihan kontinu adalah metode latihan berenang
yang dilakukan secara terus menerus tanpa terputus atau istirahat, secara bertahap
dan teratur dengan penekanan pada intensitas latihan. Latihan ini sangat
diperlukan untuk memelihara peningkatan fisik dengan prinsip beban lebih
(overload). Metode latihan kontinu adalah kerja yang berkesinambungan dalam
satu sesi latihan dan berlangsung dari awal sampai akhir latihan. Selanjutnya

Willmore (1994) menyatakan bahwa latihan kontinu adalah aktivitas yang
dilakukan terus menerus tanpa ada interval istirahat. Untuk mengetahui latihan
bertahap perlu diketahui bentuk: (1) penambahan jumlah jarak tiap latihan renang,
(2) penambahan intensitas kerja latihan renang, (3) penambahan jumlah kerja
latihan keseluruhan per minggu (Counsilman, 1994). Metode latihan kontinu
termasuk penekanan latihan dari asam laktat dari kecepatan berlomba. Bagian
dari jumlah jarak berenang bervariasi antara 400-1500 meter.
3) Frekuensi latihan perminggu. Dalam latihan anaerobik jumlah energi yang
dikeluarkan selama latihan kecepatan lebih tinggi dibandingkan dengan daya
tahan. Menurut Bompa (1998), kelelahan akan lebih cepat timbul di dalam latihan
kecepatan dan ia menyarankan agar intensitas maksimal dapat diulang lima
hingga enam kali per latihan, dua hingga empat kali per minggu selama latihan
kompetitif. Penambahan intensitas ke dalam bentuk ulangan kecepatan menurut
Maglischo (1982) adalah merupakan bagian dari ulangan dan bervariasi antara
400 hingga 1500 meter yang dilakukan tiga hingga lima kali latihan per minggu.
Latihan dengan intensitas tinggi untuk renang jarak pendek, pengulangannya
diberikan waktu istirahat singkat sehingga menambah kapasistas anaerobik dari
otot serabut putih (fast twitch fibers). Latihan renang seperti ini dilakukan tiga
kali seminggu.
Hasil penelitian Mader seperti dikutip Heck (1980) menyimpulkan bahwa
kelompok A dengan kadar asam laktat tinggi di atas 4 mmol/1 liter laktat bekerja dan

berlatih secara anaerob, sedangkan kelompok B dengan laktat rendah di bawah 4
mmol/1 liter laktat bekerja dan berlatih secara aerob.
Kemudian dari hasil penelitian Foster (1995) diketahui bahwa profil laktat
dalam darah dapat digunakan sebagai indikator intensitas latihan. Bahkan menurut
Lampert (1996) mengukur asam laktat lebih akurat dan reliabel dari pengukuran VO2
Max dalam menentukan intensitas latihan renang. Selanjutnya penelitian Simon
(1994) merekomendasikan untuk memperhatikan perbedaan kadar asam laktat
individu dalam memberikan suatu bentuk latihan sebagai kontrol kemampuan aerobik
dan anaerobik.

3. Metodologi Penelitian
3.1 Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.
Eksperimen adalah kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data-data yang ada hubungannya dengan hipotesis. Peneliti dengan
sengaja dan secara sistematis memasukkan perlakuan-perlakuan ke dalam gejala-gejala alamiah dan kemudian mengamati akibat dari perlakuan tersebut. Dalam
bentuk yang sederhana, suatu eksperimen mempunyai tiga ciri, yaitu (1) suatu
variabel bebas yang dimanipulasi, (2) semua variabel lainnya, kecuali variabel bebas,
dipertahankan tetap seperti semula, dan (3) pengaruh manipulasi variabel bebas
tehadap variabel terikat diamati (Ary et al., 1982).

Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan Faktorial 2x2. Di dalam
rancangan faktorial, unit eksprimen dikelompokkan ke dalam sel sedemikian rupa,
sehingga unit-unit eksperimen dalam setiap sel relatif bersifat homogen. Sampel
dikenakan secara acak kepada unit-unit eksperimen dalam setiap sel.
3.2 Sampel dan Data
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Jakarta (FIK UNJ) semester ganjil. Sedangkan sampel penelitian
adalah mahasiswa angkatan 2004 tahun akademik 2004/2005 yang berjumlah 40
orang mahasiswa putera yang diambil secara acak. Adapun teknik pengambilan
sampel dilakukan dengan cara: (1) melakukan tes asam laktat untuk membagi
kelompok eksperimen berdasarkan kadar asam laktat, (2) mengklasifikasi asam laktat
tinggi dan rendah, yaitu 4 mmol/1 ke atas (tinggi) dan 3,9 mmol/1 ke bawah (rendah),
dan (3) menetapkan sampel secara acak dari masing-masing kadar asam laktat untuk
ditempatkan pada sel perlakuan metode interval dan metode kontinu.

Tabel 2: Matriks Pengelompokan Sampel Eksperimen

Metode Latihan
Kadar Asam Laktat
Interval Kontinu
Tinggi 10 10
Rendah 10 10

3.3 Tempat dan waktu
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Jakarta pada bulan Oktober s/d Desember 2004.


3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengambilan data tentang asam laktat dilakukan terhadap seluruh anggota
populasi terjangkau yang dilakukan sebelum perlakuan penelitian diadakan.
Pengambilan data asam laktat digunakan untuk mengelompokkan populasi yang
memiliki asam laktat tinggi dan rendah.
Pengumpulan data tentang hasil belajar renang 100 meter gaya bebas
dilakukan sesudah subjek dikenakan perlakuan selama 16 kali pertemuan.
Pengelompokan penelitian secara sederhana tampak pada Tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3: Skema Pengambilan Data Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas

Asam Laktat Perlakuan Tes Renang
Tinggi 1 2 100 meter gaya bebas
Rendah 3 4 100 meter gaya bebas

3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analsis data dalam penelitian ini adalah analisis Varian (ANAVA) dua
jalur dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi α=0,05.

4. Hasil dan Bahasan
4.1 Hasil
Berikut ini akan dipaparkan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas mahasiswa.
1) Hasil Belajar renang 100 meter Gaya Bebas dari Kelompok Mahasiswa yang
Mendapatkan Metode Latihan Interval Secara Keseluruhan

Hasil tes akhir hasil belajar renang 100 meter gaya bebas yang mendapat
metode latihan interval secara keseluruhan dengan jumlah sampel sebanyak 20

menunjukkan rentangan skor tertinggi dan terendah antara 96,6 s.d. 196,1 dengan
skor rata-rata 150,6 dan simpangan baku 27,6. Di dalam Tabel 4 tampak bahwa
enam orang (30%) dari jumlah mahasiswa hasil belajar renang 100 meter gaya
bebas berada di atas rata-rata, enam orang (30%) berada pada rata-rata, dan
delapan orang (40%) di bawah rata-rata.

Tabel 4: Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya (dalam detik)
Kelompok Metode latihan Interval Secara Keseluruhan

No Kelas Interval
(detik)
Frekuensi
Absolut
Frekuensi Relatif
1.
2.
3.
4.
5.
96,9-116,8
116,9-136,8
136,9-156,8
156,9-176,8
176,9-196,8
3
6
5
3
15
30
45
15
Jumlah 20 100

2) Hasil Belajar Renang 100 meter Gaya Bebas dari Kelompok Mahasiswa yang
Mendapatkan Metode Latihan Kontinu Secara Keseluruhan

Hasil tes akhir hasil belajar renang 100 meter gaya bebas yang mendapat
metode latihan kontinu secara keseluruhan dengan jumlah sampel 20 orang
menunjukkan rentangan nilai tertinggi dan terendah antara 78,2 s.d. 241,4 dengan
skor rata-rata 153,3 dan simpangan baku 47,8. Distribusi frekuensinya tampak
pada tabel 5.






Tabel 5: Distribusi Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas (dalam detik)
Kelompok Metode Latihan Kontinu secara keseluruhan
No Kelas Interval
(detik)
Frekuensi
Absolut
Frekuensi Relatif
1.
2.
3.
4.
5.
78,2-110,8
110,9-143, 5
143,6-176,2
176,3-208,9
209-241,6
4
5
4
3
20
25
20
15
Jumlah 20 100

Pada Tabel 5 tampak bahwa 9 orang (45%) dari jumlah mahasiswa hasil
belajar renang 100 meter berada di atas rata-rata, 4 orang (20%) berada pada rata-rata, dan tujuh orang (35%) berada di bawah rata.
3) Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas dari Kelompok Mahasiswa yang
Memiliki Laktat Tinggi yang Mendapatkan Metode Latihan Interval
Hasil tes akhir hasil belajar renang 100 meter gaya bebas yang memiliki
laktat tinggi yang mendapat metode latihan interval dengan jumlah sampel 10
orang menunjukkan rentangan nilai tertinggi dan terendah antara 111,1 s.d. 196,1
dengan skor rata-rata 155,6 dan simpangan baku 27,9. Distribusi frekuensi tampak
pada tabel 6.
Pada Tabel 6 tampak bahwa 3 orang (30%) dari jumlah mahasiswa hasil
belajar renang 100 meter gaya bebas berada di atas rata-rata, 1 orang (10%) berada
pada rata-rata, dan 6 orang (60%) di bawah rata-rata.




Tabel 6: Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas (dalam
detik) Kelompok Mahasiswa Memiliki Laktat Tinggi yang Mendapatkan
Metode Interval
No Kelas Interval
(detik)
Frekuensi
Absolut
Frekuensi Relatif
1.
2.
3.
4.
111,1-133,4
133,5-155,8
155,9-178,2
178,3-200,6
3
1
4
2
30
10
40
20
Jumlah 10 100


4) Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas dari Kelompok Mahasiswa yang
Memiliki Laktat Tinggi yang Mendapatkan Metode latihan Kontinu

Hasil tes akhir belajar renang 100 meter gaya bebas yang memiliki laktat
tinggi yang mendapat metode latihan kontinu dengan jumlah sampel 10 orang
menunjukkan rentangan nilai tertinggi dan terendah antara 146,5 s.d. 241,2 dengan
skor rata-rata 191,4 dan simpangan baku 29,8. Distribusi frekuensi tampak pada
Tabel 7.
Pada tabel 7 tampak bahwa 4 orang (40%) dari jumlah mahasiswa hasil
belajar renang 100 meter gaya bebas berada di atas rata-rata, 3 orang (30%) berada
pada rata-rata, dan tiga3 orang (30%) di bawah rata-rata.

Tabel 7:Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas Kelompok
Mahasiswa Memiliki Laktat Tinggi yang Mendapatkan Metode Kontinu

No Kelas Interval
(detik)
Frekuensi
Absolut
Frekuensi Relatih
1.
2.
3.
4.
5.
146,5-165,4
165-184,4
184-203,4
203,5-222,4
222,5-241,4
2
3
1
2
20
30
10
20
Jumlah 10 100


5) Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas dari Kelompok Mahasiswa yang
Memiliki Laktat Rendah yang Mendapatkan Metode latihan Interval

Hasil tes akhir hasil belajar renang 100 meter gaya bebas yang memiliki
laktat rendah yang mendapat metode latihan interval dengan jumlah sampel 10
orang menunjukkan rentangan nilai tertinggi dan terendah antara 96,9 s.d. 190,3
dengan skor rata-rata 145,5 dan simpangan baku 27,9. Distribusi frekuensi tampak
pada Tabel 8.
Pada Tabel 8 tampak bahwa 3 orang (30%) dari jumlah mahasiswa hasil
belajar renang 100 meter gaya bebas berada di atas rata-rata, 4 orang (40%) berada
di rata-rata, dan 3 orang (30%) di bawah rata-rata.

Tabel 8:Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas Kelompok
Mahasiswa Memiliki Laktat Rendah yang Mendapatkan Metode Interval

No Kelas Interval
(detik)
Frekuensi
Absolut
Frekuensi Relatih
1.
2.
3.
4.
5.
96,9-115,8
115,9-134,8
134,9-153,8
153,9-172,8
172,9-191,8
1
2
4
1
2
10
20
40
10
20
Jumlah 10 100

6) Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas dari Kelompok Mahasiswa yang
Memiliki Laktat Rendah yang Mendapatkan Metode Latihan Kontinu

Hasil tes akhir hasil belajar renang 100 meter gaya bebas yang memiliki
laktat rendah yang mendapat metode latihan kontinu dengan jumlah sampel 10
orang menunjukkan rentangan nilai tertinggi dan terendah antara 78,2-92 sampai

dengan 153,4 dengan skor rata-rata 115,2 dan simpangan baku 26,8. Distribusi
frekuensi tampak pada Tabel 9.
Pada Tabel 9 tampak bahwa 3 orang (30%) dari jumlah mahasiswa hasil
belajar renang 100 meter gaya bebas berada di atas rata-rata, 2 orang (20%) berada
pada rata-rata, dan lima 2 orang (50%) di bawah rata-rata.

Tabel 9: Distribusi frekuensi hasil belajar renang 100 meter gaya bebas (dalam
detik) kelompok mahasiswa memiliki laktat rendah yang mendapatkan
metode kontinu
No Kelas Interval
(detik)
Frekuensi
Absolut
Frekuensi
Relatih
1.
2.
3.
4.
78,2 – 97
97,1 – 115,9
116 – 134,8
134,9 – 153,7
32
2
1
4
30
20
10
40
Jumlah 10 100


4.2 Persyaratan pengujian Hipotesis
Persyaratan pengujian hipotesis ini dimaksudkan untuk menguji asumsi awal
yang mendasari penggunaan teknik pengujian hipotesis dengan menggunakan teknik
analisis statistik, yaitu analisis varians (ANAVA). Sebelum pengujian dilakukan,
terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan, yaitu: (1) uji normalitas sampel dan (2) uji
homogenitas varians.
1) Uji normalitas dilakukan pada semua kelompok yang dibandingkan dengan
menggunakan uji Lilliefors. Perhitungan lengkap dapat dilihat pada Tabel 10.
Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa harga Lo untuk semua kelompok

lebih kecil dari Lt. Dengan demikian skor data hasil metode latihan interval dan
kontinu dari setiap kelompok berasal dari populasi berdistribusi normal.
Tabel 10: Ringkasan Hasil Uji Normalitas Kelompok Mahasiswa yang Diberikan
Metode Interval dan Kontinu
Kelompok N Lo Lt Kesimpulan
1
2
3
4
5
6
7
8

20
20
10
10

0,1078
0,0741
0,0983
0,0779
0,1508
0,1364
0,1013
0,1686
0,190
0,190
0,258
0,258
Normal
Normal
Normal
Normal

Keterangan:
Kelompak 1: kelompok metode latihan interval secara keseluruhan
Kelompok 2: kelompok metode latihan kontinu secara keseluruhan
Kelompok 3: kelompok laktat tinggi secara keseluruhan
Kelompok 4: kelompok laktat rendah secara keseluruhan
Kelompok 5: kelompok metode asam laktat tinggi dengan metode interval
Kelompok 6: kelompok metode asam laktat tinggi dengan metode kontinu
Kelompok 7: kelompok metode asam laktat rendah dengan metode interval
Kelompok 8: kelompok metode asam laktat rendah dengan metode kontinu

2) Uji Homogenitas varians populasi dilakukan terhadap tes renang 100 meter gaya
bebas pada mahasiswa yang diberikan metode latihan interval dan metode kontinu.
Mahasiwa yang memiliki laktat tinggi dan laktat rendah menggunakan uji Bartlett.
Hasil pengujian homogenitas varians dapat dilihat pada Tabel 11 sebagai berikut.







Tabel 11: Rangkuman Hasil Uji Homogenitas
Kelompok Variansi Variansi
Gabungan
χ 2
h χ 2
t
Kesimpulan
1
2
3
4
779,53
889,23
776,74
716,10

790,4


0,1038

7,81

Homogen

Keterangan:
Kelompok 1: kelompok metode asam laktat tinggi dengan metode interval
Kelompok 2: kelompok metode asam laktat tinggi dengan metode kontinu
Kelompok 3: kelompok metode asam laktat rendah dengan metode interval
Kelompok 4: kelompok metode asam laktat rendah dengan metode kontinu
χ : harga chikuadrat hitung 2
h
χ : harga chikuadrat tabel 2
t

Pada Tabel chikuadrat pada α=0,05 dengan dk= 4-1= 3 diperoleh χ = 7,81,
ternyata χ =0,1038, lebih kecil dari χ . Maka Ho: σ²1=σ²2=σ²3=σ²4 diterima.
Kesimpulannya adalah bahwa keempat sampel penelitian mempunyai varians yang
sama (homogen).
2
t
2
h
2
t

4.3 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis varians
(ANAVA) dua arah. Rangkumannya dapat dilihat pada Tabel 12.







Tabel 12 Ringkasan hasil perhitungan ANAVA skor renang 100 meter
Sumber Variasi dk JK KT Fo Ft
Rata-rata

Perlakuan:
A (asam laktat)
B (Metode)
C (interaksi)

Kekeliruan (E)
1

1
1

36
923035,54

18623,54
73,17
10919,72

28454,4
923035,54

18623,54
73,17
10919,72

790,4


23,56**
0,093 na
13,81


4,11
4,11
Jumlah 40 981106,37
Keterangan:
** = signifikan pada taraf nyata=0,05
ns = non signifikan (tidak signifikan dalam taraf nyata = 0,05)
dk = derajat kebebasan
JK = jumlah kuadrat
KT = rata-rata jumlah kuadrat
Fo = harga F observasi
Ft = harga F Tabel
A = asam laktat
B = metode latihan
AB = interaksi

1) Perbedaan Hasil Belajar Renang 100 Meter Gaya Bebas antara Metode Latihan
Interval dengan Metode Latihan Kontinu

Berdasarkan hasil ANAVA tampak bahwa harga F hitung antar kolom (B)=0,093
dan Ft=4,11, yang berarti FoF tabel,
sehingga Ho diterima. Kesimpulannya adalah terdapat interaksi antara metode
dengan kadar asam laktat terhadap hasil belajar renang 100 meter gaya bebas.

Dengan terujinya interaksi, selanjutnya perlu dilakukan uji lanjut setelah
ANAVA. Uji lanjut dimaksudkan untuk mengetahui (1) perbedaan hasil belajar
renang antara metode internal dengan metode kontinu bagi mahasiswa yang memiliki
laktat tinggi dan (2) perbedaan hasil belajar renang antara metode internal dengan
metode kontinu dan bagi mahasiswa yang memiliki laktat rendah.
Uji lanjut yang digunakan dalam analisis ini adalah Uji Tukey. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat rangkumannya pada Tabel 13 sebagai berikut.


Tabel 13 Rangkuman hasil uji lanjut Tukey
No Kelompok
dibandingkan
Q hitung Q tabel
α=0,05
Keterangan
1
2
P1 dengan P2
P3 dengan P4
4,02
3,41
3,79 Signifikan
Tidak Signifikan
Keterangan:
P1 : Kelompok laktat tinggi yang diajar dengan metode interval
P2 : Kelompok laktat tinggi yang diajar dengan metode kontinu
P3 : Kelompok laktat rendah yang diajar dengan metode interval
P4 : Kelompok laktat rendah yang diaja dengan metode kontinu



Dari hasil pengujian dengan metode Tukey sebagaimana terlihat pada Tabel di
atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Kelompok laktat tinggi yang diajar dengan metode interval (P1) dibandingkan
dengan kelompok laktat tinggi yang diajarkan dengan metode kontinu (P2).
Hasilnya Q hitung (4,02) ternyata lebih besar dari Q tabel (3,79). Kesimpulannya
adalah bahwa bagi mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat tinggi, hasil
belajar renang 100 meter gaya bebas dengan metode interval lebih tinggi dari
metode kontinu.
b. Kelompok laktat rendah yang diajarkan dengan metode interval (P3) dibandingkan
dengan kelompok laktat rendah yang diajar dengan metode kontinu (P4). Hasilnya
Q hitung (3,41) ternyata lebih kecil dari Q tabel (3,79). Kesimpulannya adalah
bahwa bagi mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat rendah, tidak terdapat
perbedaan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas antara metode interval
dengan metode kontinu.

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa secara keseluruhan
tidak ada perbedaan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas antara metode interval
dengan metode kontinu. Ini berarti bahwa hipotesis pertama tidak teruji karena
didukung oleh data-data yang ada. Demikian pula dengan hasil pengujian hipotesis
ketiga yang menunjukkan bahwa bagi mahasiswa yang memiliki asam laktat rendah
tidak terdapat perbedaan hasil belajar renang 100 meter gaya bebas antara metode

interval dengan metode kontinu. Berarti hipotesis ketiga pun belum teruji
kebenarannya karena tidak didukung oleh data-data yang ada.
Diduga hal ini disebabkan karena hal-hal sebagai berikut: 1) Subjek penelitian
masih mengikuti kegiatan mata kuliah praktik yang lain, sehingga diduga ada
pengaruhnya terhadap hasil perlakuan. Selain itu kemungkinan dengan hasil
melakukan kegiatan perkuliahan, latihan yang diberikan membuat beban yang
berlebih bagi mahasiswa, sehingga menyebabkan over training atau kelelahan yang
berlebihan; 2) Dalam pelaksanaan penelitian, perlakuan yang dilakukan adalah dalam
bentuk aktivitas fisik yang memerlukan banyak tenaga atau energi. Diduga kondisi
tersebut berpengaruh terhadap kondisi fisik sampel, karena tidak diasramakan dan
jumlah gizi yang dikonsumsi dapat saja tidak sama.
Berkaitan dengan gizi yang tidak seimbang antara yang keluar dan yang
masuk, akan terjadi kekurangan glikogen pada otot (glikogen depletion). Kekurangan
glikogen yang terjadi akibat mengikuti mata kuliah praktik yang lain ditambah latihan
eksperimen penelitian ini menyebabkan waktu istirahat yang tidak cukup untuk
memberi waktu pemulihan tenaga pada tubuh.
Selain itu, kekurangan glikogen akan berdampak pada hasil belajar renang
yang memerlukan banyak tenaga dan pengeluaraan energi. Kekurangan bahan bakar
glikogen harus diimbangi dengan makanan yang bergizi tinggi, terutama karbohidrat.
Karena kekurangan glikogen pada serabut otot, kontraksi otot menjadi lambat seolah-olah tidak bertenaga. Dengan demikian, tidak terujinya hipotesis yang menyatakan
tidak ada perbedaan antara metode interval dan kontinu pada tingkat kadar asam

laktat rendah mungkin disebabkan kurangnya jumlah gizi yang dikonsumsi
mahasiswa selama pelaksanaan eksperimen penelitian ini.

6. Simpulan dan saran
6.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, secara keseluruhan tidak terdapat
perbedaan yang nyata antara metode interval dengan metode kontinu terhadap hasil
belajar renang 100 meter gaya bebas.
Bagi mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat tinggi, metode interval lebih
baik dibandingkan metode kontinu terhadap hasil belajar renang 100 meter gaya
bebas.
Bagi mahasiswa yang memiliki kadar asam laktat rendah, metode kontinu
tidak lebih baik dibandingkan metode interval terhadap hasil belajar renang 100 m
gaya bebas.
Terdapat interaksi antara metode latihan dengan kadar asam laktat terhadap
hasil belajar renang 100 meter gaya bebas.
6.2 Saran
Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan kepada para peneliti agar
melakukan penelitian yang sama terhadap sampel wanita serta gaya renang lainnya.
Dengan tidak terujinya hipotesis pertama dan ketiga, disarankan kepada para peneliti
agar meneliti ulang dengan metodologi penelitian yang lebih disempurnakan.

Selanjutnya dengan terujinya hipotesis yang menyatakan metode interval
lebih baik dari kontinu pada asam laktat tinggi, direkomendasikan bagi para dosen
atau pelatih untuk menggunakan metode interval pada mahasiswa yang ingin
meningkatkan hasil belajar renang dalam arti kecepatan berenang dengan
menggunakan metode interval. Disamping itu, pengukuran asam laktat dapat dipakai
sebagai salah satu indikator pencapaian intensitas latihan yang diinginkan. Dengan
terbuktinya ada interaksi antara metode latihan dengan kadar asam laktat terhadap
hasil belajar renang 100 meter gaya bebas, kedua faktor tersebut harus diperhitungkan
untuk mencapai hasil belajar renang yang optimal dan efesien.











Pustaka Acuan
Ary, D., Jacobs, L.C. dan Razaviech, A. 1985. Introduction to Research in Education.
New York: CBS College Publishing.

Bomba, T.O. 1998. Theory and Methodology of Training. Dubuque, Iowa: Hunt
Publishing Company.

Colwin, C.M. 1992. Swimming Into the 21st
Century. Champaign: Human Kinetics
Publisher.

Costill, D. 1994. Physiology of Sport and Exercise. Champaign: Human Kinetics.

Counsilman, J.E. dan Briand, E. 1994. The Science of Swimming. Englewood Cliffs,
New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Foster. C. 1995. The Bloodless Lactate Profile. Medicine & Science in Sports &
Exercise. Volume 27 No. 6 Juni.

Fox, E.L. 1992. Sport Physiology. New York: W.B. Sounders Company.

Fox, E.L. dan Bowers, E. 1981. The Physiology Basis of Physical Education. New
York: Saunders Publishing Company.

Heck, H. 1980. Laktat in der Leistungdiagnostik. Schorndorf: kart Hofmann Verlag.

Lampert, E. 1996. Short Endurance Training Improve Lactat Removal Ability in
Patients with Heart Transplants. Medicine & Science in Sports and
Exercise. Volume 28 No. 7 July, Indianapolis: American College of Sport
Medicine.


Larrabee. J.G. 1987. Coaching Swimming Effectively: the American Coaching
Effectiveness Program Level I Swimming Handbook. Illinois: Human
Kinetics Publishing Inc.

Magill, R.A. 1980. Motor Learning Concepts and Applications. Iowa: Wm. C Brown
Company Publisher.

Maglischo, E.W. 1982. Swimming Faster: A Comprehensive Guide to the Science of
Swimming. California: Mayfield Publisher Company.

PB. PRSI. 1994. Peraturan Pertandingan. Jakarta: Pengurus Besar Persatuan Renang
Seluruh Indonesia.

Schmidt, R.A. 1988. Motor Control and Learning, a Behavior Emphasis Champaign.
Illinos: Human Kinetics Publisher Inc.

Simon, G. 1994. Laktat zur Aeroben und Anaeroben Leistungsdiagnostik im
Swimmen. Dalam Stellenvert der laktatbestimmung in der
Leistungsdiagnostik. Stutgart: Gustav Fisher Verlag.

Stone, J.W. dan Kroll, W. 1991. Sports Conditioning and Weight Training: Program
for Athletics Competition. Dubugue: Wm. C. Brown Publisher.

Sudjana. 1994. Desain dan Analisis Eksprimen Edisi III. Bandung: Tarsito.

Thomas, D.G. 1996. Renang: Tingkat Pemula. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tjiang, O.S. dan Tarigan, M. 1956. Renang, Jakarta: Keng Po.





Troup, J. dan Reese, R. 1983. A Scientific Approach to the Sport of Swimming.
Gainesville: Scientific Sport Inc.

Willmore. J.H. dan Costill, D.L. 1994. Physiology of Sport and Exercise. Champaign:
Human Kinetics.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar