Jumat, 08 Juli 2011

AKUNTANSI

Hubungan antara Persepsi terhadap Dunia Usaha, Kecerdasan
Emosional, Sikap terhadap Profesi Akuntan dan Motivasi Berprestasi
Mahasiswa Akuntansi*)

Hanif Ismail**)

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara persepsi
terhadap dunia usaha, kecerdasan emosi, sikap terhadap profesi akuntan, dengan
motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Penelitian ini dilaksanakan di
PerguruanTinggi Swasta “X” Jakarta (2003) dengan jumlah sampel penelitian 100
responden yang dilakukan secara acak sederhana. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa terdapat hubungan positif antara: (1) persepsi terhadap dunia usaha dengan
motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi, (2) kecerdasan emosional dengan
motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi, (3) sikap terhadap profesi akuntan
dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Selanjutnya, terdapat hubungan
positif antara persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan emosi, dan sikap terhadap
profesi akuntan secara bersama-sama dengan motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi. Oleh karena itu motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi dapat
ditingkatkan dengan cara meningkatkan persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan
emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan.

Kata kunci: persepsi, kecerdasan emosional, sikap, motivasi berprestasi, dunia
usaha, dan profesi akuntan.


1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Ekonomi dan dunia usaha dewasa ini makin berkembang dan semakin
komplek pengendaliannya. Perkembangan itu dapat dilihat dari perubahan yang luar
biasa dalam tata cara penanganan transaksi bisnis. Sedemikian canggihnya teknologi
*)
Tulisan ini diringkas dari disertasi penulis yang telah dipertahankan dalam ujian terbuka di
hadapan Tim Penguji dan Senat Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, 26 Januari 2005
**)
Hanif Ismail adalah dosen tetap dan Sekretaris Program Studi Akuntansi Institut Bisnis dan
Informatika Indonesia (IBII) Jakarta
informasi dan komunikasi sehingga terjadi percepatan yang berlipat ganda dalam
proses penanganan transaksi bisnis. Fenomena ini menghasilkan perputaran bisnis
dan ekonomi dengan skala yang sebelumnya tidak terbayangkan. Transaksi bisnis
kontemporer memiliki karakteristik antara lain: volume sangat besar, intensitasnya
tinggi, bersifat global, dan karenanya sangat komplek.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi benar-benar telah menjadi
kenyataan bagi dunia usaha yang dicirikan oleh mobilitas tinggi, keserentakan,
pencarian jalan bebas hambatan, yang lazim disebut dengan globalisasi. Globalisasi
telah berdampak terhadap struktur, kultur, sistem organisasi dan manajemen.
Sebagai subsistem dari sistem dunia usaha atau bisnis, profesi dan sistem
pendidikan akuntansi tidak mungkin terbebas dari pengaruh revolusi teknologi
informasi dan komunikasi. Profesi akuntan Indonesia menghadapi tantangan yang
tidak ringan. Di depan mata masih terdapat sejumlah agenda besar yang harus
dituntaskan, di antaranya adalah langkah-langkah yang harus ditempuh agar dapat
meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan dan cara
meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.
Sistem pendidikan akuntansi di perguruan tinggi merupakan hal pokok yang
harus mendapat perhatian serius. Kurikulum berdasarkan kompetensi, proses belajar-mengajar yang berkualitas, dan pendidikan karakter positif (disiplin, sikap, dan
motivasi) adalah sebagian dari hal-hal mendasar dalam pendidikan. Pendidikan
merupakan fondasi bagi tegaknya profesionalisme sebuah profesi.

2
Proses belajar-mengajar (PBM) yang berkualitas pada program studi
akuntansi merupakan langkah awal untuk menghasilkan sarjana akuntansi yang
berkualitas. Kualitas proses belajar-mengajar program studi akuntansi, komitmen, dan
motivasi mahasiswa akan berdampak secara langsung pada kualitas lulusan. Menjadi
sarjana akuntansi baru merupakan tahap awal untuk menuju ke profesi akuntan,
karena masih ada pendidikan lanjutannya, yaitu program pendidikan profesi akuntan
(PPAk), ujian sertifikasi akuntan seperti ujian sertifikasi akuntan publik (USAP) yang
diadakan oleh Departemen Keuangan dan Ikatan Akuntan Indonesia, ujian untuk
mendapatkan certified public accountant (CPA) yang diadakan oleh The American
Institute of Certified Public Accountant (AICPAs), atau ujian untuk mendapatkan
Certificate in Management Accounting (CMA) yang diadakan oleh Institute of
Management Accounting (IMA) Amerika Serikat.
Secara umum agaknya kualitas akuntan Indonesia saat ini secara rata-rata
belum menunjukkan standar mutu yang diharapkan oleh profesi akuntan. Hal ini
setidak-tidaknya ditunjukkan oleh semakin banyaknya akuntan asing yang
mendapatkan kepercayaan untuk mengerjakan proyek-proyek raksasa di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah: (1) empat Kantor Akuntan Publik terbesar yang
beroperasi di Indonesia umumnya dikuasai pihak asing, (2) proyek Due Diligence
BPPN dipercayakan pada pihak asing, dan (3) banyak akuntan asing yang menduduki
jabatan strategis di Kantor Akuntan Publik (KAP) dan perusahaan besar di Indonesia.
Seperti yang diungkapkan oleh Prakarsa (1998), ketidak-seragaman kualitas tenaga
akuntan, baik yang dihasilkan oleh berbagai universitas negeri maupun swasta,

3
tampaknya telah mengundang masuknya tenaga akuntan asing dalam jumlah yang
semakin besar.
Untuk mendapatkan akuntan dengan kualitas yang memadai haruslah dimulai
dengan memantapkan proses pendidikan akuntansi secara terus-menerus. Unsur-unsur dari proses pendidikan akuntansi itu antara lain kurikulum, proses belajar
mangajar, motivasi berprestasi, lingkungan kuliah yang kondusif, dan lain
sebagainya.
Motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi harus mendapat perhatian yang
serius, karena motivasi berprestasi pada akhirnya dapat menentukan hasil belajar
seseorang. Motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi yang rendah akan berdampak
pada prestasinya dan selanjutnya kualitas yang diinginkan makin jauh dari harapan.
Seseorang bisa saja kurang pandai, tetapi jika motivasi berprestasinya tinggi, maka ia
akan dapat melewati proses pendidikan dengan baik dengan prestasi memadai.
Sumber motivasi berprestasi itu dapat berasal dari dalam diri manusia itu, seperti
pengetahuan tentang masa depan dan cita-cita serta kebiasaan belajar seseorang, dan
dapat pula bersumber dari luar diri manusia seperti lingkungan belajar yang kondusif,
proses belajar mengajar, dan lain sebagainya.
Prestasi mahasiswa akuntansi Perguruan Tinggi “X”, baik di bidang akademik
maupun non akademik, untuk sebagian jumlah mahasiswa saat ini sangat
membanggakan. Namun secara umum motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi di
Perguruan Tinggi “X” belum memadai. Pengamatan yang dilakukan penulis pada
sebagian mahasiswa akuntansi Perguruan Tinggi “X” memberikan gambaran sebagai

4
berikut: (1) kebanyakan mahasiswa hanya mengandalkan hand out dosen sebagai
referensi, sangat jarang mahasiswa membaca textbook; (2) malas mengerjakan
pekerjaan rumah yang ditugaskan dosen; (3) belajar menggunakan moto “sks”
(sistem kebut semalam) dalam rangka menghadapi ujian; (4) sangat jarang mengikuti
perkembangan akuntansi, bahkan banyak mahasiswa tidak pernah tahu ada majalah
Media Akuntansi yang diterbitkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), padahal selalu
tersedia di perpustakaan.
Dengan melihat kondisi seperti ini, identifikasi terhadap faktor-faktor yang
dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi
perlu dilakukan agar dapat diambil kebijakan yang sesuai untuk memperbaiki kualitas
lulusan. Perguruan tinggi yang mempunyai program studi berkualitas tinggi akan
meningkatkan citra perguruan tinggi itu di mata masyarakat sebagai stakeholder.
Tentu saja ini akan berdampak pada nilai jual program studi itu di tengah-tengah
masyarakat.
Seperti telah dikemukakan, banyak faktor yang berhubungan dengan motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi, antara lain persepsi mahasiswa terhadap dunia
usaha, kecerdasan emosional, sikap terhadap profesi akuntan, minat belajar yang
tinggi, dan faktor pengelolaan program studi.
Informasi tentang faktor-faktor itu akan membantu pengelola program studi
dalam menentukan langkah-langkah yang diduga efektif untuk meningkatkan
motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Semua faktor di atas penting untuk diteliti
dan dikaji secara mendalam. Namun karena keterbatasan yang ada, penelitian ini

5
dibatasi pada beberapa faktor atau variabel saja, yaitu persepsi terhadap dunia usaha,
kecerdasan emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan dalam hubungannya
dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi.
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut: (1) Apakah terdapat hubungan antara persepsi terhadap
dunia usaha dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi dan seberapa besar
hubungan itu? (2) Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan
motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi dan seberapa besar hubungan itu? (3)
Apakah terdapat hubungan antara sikap terhadap profesi akuntan dengan motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi dan seberapa besar hubungan itu? (4) Apakah
terdapat hubungan antara persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan emosional, dan
sikap terhadap profesi akuntan secara bersama-sama dengan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi dan seberapa besar hubungan itu?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah terdapat hubungan
antara persepsi terhadap dunia usaha dengan motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi dan seberapa besar hubungan itu, (2) untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara kecerdasan emosional dengan motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi dan seberapa besar hubungan itu, (3) untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara sikap terhadap profesi akuntan dengan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi dan seberapa besar hubungan itu, dan (4) untuk mengetahui

6
apakah terdapat hubungan antara persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan
emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan secara bersama-sama dengan motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi dan seberapa besar hubungan itu.

2. Kajian Teoritik
2.1 Motivasi Berprestasi Mahasiswa Akuntansi
Motif atau motivasi dapat dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik.
Pembagian motif menjadi motif intrinsik dan motif ekstrinsik ini didasarkan pada
datangnya penyebab suatu tindakan. Tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang
datang dari dalam diri individu disebut tindakan yang bermotif intrinsik, sedangkan
tindakan yang digerakkan oleh suatu sebab yang datang dari luar diri individu disebut
tindakan yang bermotif ekstrinsik.
Haasen dan Shea (1970) mengemukakan bahwa motivasi dapat dilihat dari
kata motif yang berarti segala sesuatu yang menyebabkan seseorang berperilaku.
McGaugh (1977) mengemukakan bahwa motivasi adalah dasar kekuatan atau daya
yang menggerakkan seseorang untuk berperilaku. Motivasi adalah semua kekuatan
yang ada dalam diri seseorang yang memberi daya, memberi arah, dan memelihara
tingkah laku. Hal ini sejalan dengan Baron (1992) yang menyimpulkan bahwa
motivasi berhubungan dengan proses-proses dalam diri individu yang menjalankan
segala aktivitas, membimbing, dan memelihara tingkah laku.
Menurut Hersey dan Blanchard (1990), motif kadang-kadang didefinisikan
sebagai kebutuhan (needs), keinginan (wants), dorongan (drives), atau rangsangan

7
(impulses) yang memicu seseorang berperilaku. Di satu sisi seseorang berperilaku
karena dorongan motif dan di sisi lain perilaku atau tindakan seseorang berorientasi
pada tujuan. Dengan kata lain, motif itu juga berorientasi pada tujuan yang hendak
dicapai. Misalnya seorang mahasiswa belajar sungguh-sungguh dalam rangka
mencapai tujuannya, yaitu menjadi sarjana. Lewis dan Peterson (1974)
mengemukakan bahwa motif dan kebutuhan mendorong seseorang berperilaku untuk
mencapai tujuannya dimana pencapaian tujuan itu sendiri akan memberikan kepuasan
terhadap kebutuhan.
Denny (1994) mengemukakan bahwa yang menjadi dasar segala motivasi
adalah harapan. Harapan adalah syarat awal agar seseorang dapat termotivasi.
Harapan adalah penyebab bagi sesuatu yang dihasilkan dan tanpa harapan tak seorang
pun bisa termotivasi. Kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan
suatu cara tertentu tergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan
itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu dan pada daya tarik keluaran tersebut.
Prestasi (achievement) merupakan suatu kebutuhan manusia (need of
achievement), oleh karena itu agar terpenuhi kebutuhan berprestasi perlu upaya-upaya
untuk mencapainya. Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai atas sesuatu hal yang
dikerjakan. McClelland (1985) mengemukakan bahwa motivasi berprestasi
mengandung dua aspek, yaitu (1) mencirikan suatu ketahanan dan suatu ketakutan
akan kegagalan dan (2) meningkatkan usaha keras yang berguna dan mengharapkan
akan keberhasilan. Sementara itu Travers (1982) mengemukakan bahwa aspek-aspek
motivasi berprestasi adalah mengharapkan keberhasilan dan menghindari kegagalan.

8
Stoner dan Wankel (1986) menjelaskan bahwa orang yang mempunyai
motivasi berprestasi memiliki sejumlah karakteristik, yakni (a) mereka cenderung
mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah, pekerjaan, dan tugas, (b)
cenderung menentukan tujuan yang agak sulit bagi diri sendiri dan mengambil risiko
yang telah diperhitungkan untuk mencapai tujuan, (c) sangat mementingkan umpan
balik mengenai seberapa baik mereka melakukan sesuatu. Dengan demikian, orang-orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cenderung mempunyai kebutuhan
yang sangat dimotivasi oleh situasi yang bersaing dan penuh tantangan.
Motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi merupakan suatu dorongan dan
kebutuhan untuk berkompetisi mencapai standar kesempurnaan untuk mencapai hasil
dalam menyelesaikan program studi akuntansi.
Dari uraian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi adalah adanya dorongan mahasiswa mencapai hasil
yang lebih baik yang disebabkan adanya dorongan internal dan dorongan eksternal.
Dimensi dorongan internal disebabkan oleh dorongan dalam diri individu yang
ditandai dengan indikator: (1) mempunyai harapan untuk sukses, (2) kegigihan
memperoleh sesuatu, (3) senang bekerja keras. Sedangkan dimensi eksternal ditandai
dengan indikator: (1) berani mengambil resiko, dan (2) menyukai tantangan untuk
berkompetisi.




9
2.2 Persepsi Terhadap Dunia Usaha
Persepsi adalah suatu proses mental memberi makna atau arti terhadap suatu
hal setelah kita memperoleh informasi melalui indera. Persepsi merupakan
interpretasi, analisis, dan integrasi dari panca indera kita. Persepsi merupakan
pengembangan dari sensasi yang kadang-kadang sukar dibedakan. Perbedaan utama
adalah bahwa sensasi dihasilkan dari stimulus indera dalam menangkap objek atau
peristiwa, sedangkan persepsi adalah proses menginterpretasi, menganalisis, dan
mengintegrasikan dengan informasi indera (Feldman, 1990).
Menurut McMahon dan McMahon (1986), istilah sensasi ditujukan kepada
proses penerimaan informasi dalam bentuk energi melalui indera yang tepat yaitu,
indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan rasa. Sekali informasi
diterima, kita menginterpretasi dan memahami apa artinya. Inilah yang disebut
sebagai persepsi.
Menurut Woolfolk (1993), dalam proses belajar dan bekerja manusia
menerima informasi dari lingkungan hidupnya, kemudian informasi itu diolah,
disimpan, dan dikeluarkan lagi. Pengolahan informasi itu melalui sensasi, berpikir,
dan persepsi. Kita membangun kesan dari orang lain dengan cara melayani
penyelarasan, membuat ramalan, dan mengubah pengelolaan pandangan dunia sosial
kita. Persepsi adalah suatu kesadaran terhadap objek atau peristiwa dalam suatu
lingkungan yang ditangkap oleh indera. Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman dan
kebudayaan. Persepsi terhadap dunia usaha merupakan pemberian makna atau
tanggapan dan pemahaman seseorang terhadap dunia usaha.

10
Sudarsono (2002) mengemukakan bahwa dunia usaha dapat diartikan sebagai
suatu lingkup yang di dalamnya terdapat kegiatan produksi, distribusi, dan upaya-upaya lain yang diarahkan pada pemuasan secara optimal keinginan dan kebutuhan
manusia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam lingkup dunia usaha terdapat kegiatan
yang dinamis dan jenis usaha yang beraneka ragam serta saling berinteraksi, misalnya
usaha pertanian, logam mulia, perantara, transportasi, dan sebagainya. Bila pengertian
dunia usaha ditinjau dari adanya istilah produsen dan konsumen, maka dunia usaha
merupakan ajang kiprah produsen yang dapat memberikan alat pemuas bagi
kebutuhan dan keinginan konsumen. Dari pengertian ini dapat ditunjukkan bahwa
dalam kehidupannya manusia membutuhkan dan terlibat dalam dunia usaha.
Dari uraian di atas tampak bahwa ada hubungan yang saling menentukan
antara masyarakat luas dengan dunia usaha. Apabila dunia usaha dipandang sebagai
suatu rumah tangga sendiri, maka alam, masyarakat, dan segala aspek serta unsur
kehidupannya merupakan faktor lingkungan luar dunia usaha.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap dunia usaha
adalah interpretasi dan penilaian mahasiswa mengenai kegiatan yang berorientasi laba
dengan memenuhi kebutuhan pelanggan, penegakan etika bisnis, dan dinamika bisnis.
2.3 Kecerdasan Emosional
Dalam mengartikan kecerdasan para ahli mempunyai pengertian yang
beragam. Menurut Feldman (1990), kecerdasan dapat dipandang sebagai kemampuan
memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara
efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan. Menurut Gregory (2000), inteligensi

11
adalah kemampuan atau keterampilan untuk memecahkan masalah atau menciptakan
produk yang bernilai dalam satu atau lebih bangunan budaya tertentu. Sementara itu
pengertian lain menyatakan bahwa intelegensi adalah kemampuan berpembawaan
ganda yang mampu mewujudkan berbagai kemungkinan. Kemampuan ini dapat
berkembang atau menurun bergantung pada motivasi dan keadaan pengalaman
pendidikan yang relevan pada diri seseorang. Menurut Alfred dan Simon (1996),
inteligensi atau kecerdasan terdiri dari tiga komponen: (a) kemampuan untuk
mengarahkan pikiran atau tindakan; (b) kemampuan untuk mengubah sesuatu; dan (c)
kemampuan untuk mengubah diri sendiri.
Menurut Shapiro (1998), kecerdasan emosi sebenarnya memiliki akar ke
dalam konsep kecerdasan sosial yang melibatkan keterampilan memantau perasaan
baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Keterampilan memilah-milah dan
menggunakan informasi ini untuk membangun pikiran dan tindakannya.
Menurut Semiawan (1997), kecerdasan emosional adalah kemampuan
membaca pikiran diri sendiri dan pikiran orang lain dan karenanya dapat
menempatkan diri dalam situasi orang lain dan sekaligus dapat mengendalikan
dirinya sendiri.
Seseorang yang cerdas emosi adalah mereka yang selalu berusaha untuk
mempertahankan pikiran dan sikap positif sepanjang masa, walaupun pada saat itu
sedang dihinggapi perasaan-perasaan negatif. Dia akan selalu berjuang untuk

12
mengubah perasaan negatif menjadi positif agar benar-benar bisa memancarkan sikap
yang menyenangkan dan cocok dengan lingkungannya, kemudian berupaya
menerjemahkan diri ke dalam perilaku yang sedap dipandang mata dan serasi.
Perasaan negatif menjadi positif tidak bisa secara langsung dinilai, namun dapat
disimpulkan dari caranya bertindak. Komponen kecerdasan emosional meliputi
kesadaran diri, empati dan keharuan, keseimbangan, dan tanggung jawab. Kecerdasan
emosional mencakup kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi frustasi,
kemampuan mengendalikan dorongan hati, kemampuan mengendalikan emosi, dan
kemampuan berempati dengan orang lain.
Kiam (1999) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional terdiri dari lima
komponen, yaitu intrapersonal, interpersonal, adaptabilitas, pengelolaan stres, dan
suasana hati. Intrapersonal merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri,
perasaan orang lain, dan merasa positif tentang apa yang dikerjakannya dalam
kehidupan. Interpersonal merupakan kemampuan berinteraksi, berhubungan dengan
orang lain, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Adaptabilitas adalah
kemampuan untuk bersikap fleksibel, realistis, dan memecahkan masalah.
Pengelolaan stres adalah kemampuan untuk bekerja dengan baik di bawah tekanan
tanpa kehilangan kendali. Suasana hati adalah kemampuan untuk optimistis, riang
gembira, dan menciptakan suasana positif dalam lingkungan kerja.
Menurut Goleman (1996), tujuh aspek yang berhubungan dengan kecerdasan
emosi yaitu: (1) percaya diri; (2) rasa ingin tahu yang besar; (3) tekun dan

13
bersungguh-sungguh; (4) kendali diri; (5) kemampuan berhubungan dengan orang
lain; (6) kemampuan berkomunikasi; dan (7) kemampuan untuk bekerjasama.
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional
adalah kecakapan yang dimiliki seseorang dalam hal pengendalian diri, pengelolaan
stres, berempati, dan membina hubungan antar sesama.
2.4 Sikap Terhadap Profesi Akuntan
Sikap merupakan salah satu faktor penting dalam menganalisis tingkah laku
sosial manusia. Dengan mengetahui sikap seseorang, dapat diramalkan
kecenderungan perilaku, pendirian, dan keyakinan seseorang terhadap suatu objek
sikap. Artinya pendirian, keyakinan, dan kecenderungan berperilaku seseorang
merupakan bagian dari sikap. Pendirian dan keyakinan itu merupakan hasil dari
pengetahuan yang dimiliki seseorang melalui pengalamannya.
Salah satu aspek penting dari sikap adalah ranah rasa, yaitu hal-hal yang
berhubungan dengan perasaan seseorang dan dilihat dari rasa suka atau tidak suka,
senang atau tidak senang. Edwards (1975) mengemukakan bahwa sikap merupakan
tingkatan perasaan positif dan negatif yang dikaitkan dengan suatu objek sikap.
Dijelaskan bahwa sikap adalah derajat afek positif atau afek negatif terhadap suatu
objek.
Pengertian sikap berbeda dengan perilaku. Sikap belum menjadi perilaku,
tetapi kecenderungan seseorang dalam berperilaku. Hal ini biasanya disebut pula

14
sebagai disposisi atau suatu tendensi dalam merespon secara positif atau secara
negatif terhadap sesuatu (ide, objek, orang, atau situasi). Di samping itu ada pula
yang mengatakan bahwa sikap adalah suatu tendensi atau kesiapan antisipatif,
predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial. Sikap adalah respon
terhadap stimuli sosial. Lebih lanjut Anastasi dalam Azwar (1995) mengemukakan
bahwa sikap sebagai suatu tendensi untuk bereaksi pada hal yang menguntungkan
atau tidak menguntungkan ke arah stimuli kelas sosial tertentu seperti nasional,
kelompok suku, adat istiadat, dan institusi.
Sementara itu Gagne (1977) menjelaskan bahwa dalam bersikap seseorang
melibatkan tiga komponen yang ada dalam dirinya, yaitu kognisi, afeksi, dan tendensi
untuk bertindak. Pendapat lain mengatakan bahwa sikap adalah keteraturan tertentu
dalam hal pemikiran (kognisi), perasaan (afeksi), dan predisposisi tindakan (konasi)
seseorang terhadap suatu aspek lingkungan sekitarnya. Baron (1992) menjelaskan
bahwa sikap terdiri atas tiga komponen, yaitu cognitive component (kepercayaan,
pengetahuan), evaluative component (perasaan) dan behavioral component
(kecenderungan berperilaku).
Profesi akuntan sangat erat kaitannya dengan dunia ekonomi dan bisnis.
Profesi akuntan mau tidak mau ikut dalam gelombang perubahan yang terjadi dalam
lingkungan bisnis. Akuntan secara tradisional dipersepsikan sebagai “juru hitung dan
juru catat”. Pada waktu ini persepsi tersebut telah mengalami perubahan sejalan
dengan kemajuan dan perkembangan lingkungan dan ilmu. Dalam perkembangannya
profesi akuntan merupakan salah satu profesi yang sangat cepat terpengaruh oleh

15
perubahan lingkungan, terutama perubahan lingkungan ekonomi, sosial, politik,
hukum, serta hubungan internasional.
Sikap positif mahasiswa terhadap profesi akuntan adalah hal-hal yang
dianggap mempunyai “nilai lebih” dari profesi akuntan, yakni kemudahan untuk
mendapatkan pekerjaan dengan tingkat imbalan atau gaji yang memadai,
memungkinkan untuk mendapatkan peluang menjadi direktur keuangan, direktur
utama sebuah perusahaan. Selain itu variasi tempat berkarir luas, misalnya di
perusahaan manufaktur, perbankan, asuransi, bursa saham, transportasi, perhotelan,
dan lain sebagainya. Sikap negatif mahasiswa terhadap profesi akuntan adalah hal-hal
yang dianggap mempunyai “nilai minus” dari profesi akuntan, yakni profesi akuntan
saat ini dianggap belum bisa mengekspresikan idealisme secara utuh, bahkan sering
dijadikan “alat” bagi pimpinan perusahaan untuk kepentingannya dengan rekayasa
laporan keuangan atau rekayasa opini terhadap kewajaran laporan keuangan oleh
akuntan publik. Tidak jarang akuntan saat ini dipersepsikan masyarakat sebagai alat
untuk melakukan kejahatan keuangan. Dengan kata lain akuntan dalam aktivitasnya
sering dihadapkan pada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral yang
diyakininya.
Merujuk pada teori-teori dan uraian yang telah dikemukakan di atas dapat
disimpulkan bahwa sikap terhadap profesi akuntan adalah saling keterhubungan
antara kognisi, afeksi, dan konasi mahasiswa akuntansi terhadap profesi akuntan.



16
3. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Perguruan Tinggi Swasta “X” Jakarta dengan
subjek penelitian adalah mahasiswa program studi akuntansi. Waktu penelitian yaitu
selama 4 bulan terhitung sejak bulan September sampai dengan bulan Desember
2003.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei dengan teknik
korelasional. Populasi adalah mahasiswa program studi akuntansi yang telah
mengikuti perkuliahan semester satu dan dua. Sampel penelitian sebanyak 100
responden mahasiswa yang dipilih secara simple random sampling.
Untuk mengukur variabel penelitian ini digunakan instrumen berupa angket
yang sudah teruji kesahihan atau validitasnya dengan menggunakan pearson product
moment. Selanjutnya dianalisis kehandalan atau reliabilitasnya dengan menggunakan
teknik alpha cronbach (Sudjana, 1992).
Sebelum menganalisis data penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji
persyaratan analisis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Semua pengujian
dilakukan dengan taraf signifikansi α=0,05. Data yang diperoleh dari penelitian
dideskripsikan menurut masing-masing variabel.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis regresi korelasi sederhana untuk menguji hipotesis pertama, kedua, dan
ketiga. Model regresi sederhana dapat dirumuskan dengan persamaan Y =a+bX
(Siagian et al., 2000).
ˆ

17
Teknik analisis regresi korelasi ganda digunakan untuk menguji hipotesis
keempat. Model regresi berganda dapat dirumuskan dengan persamaan
=a+bYˆ 1X1+b2X2+b3X3+bnXn (Siagian et al., 2000). Keberartian koefisien korelasi
diuji dengan uji t. Bila thit. lebih besar dari ttab. pada taraf signifikansi α 0,05, dengan
derajat kebebasan n – 2, maka hipotesis dapat diterima.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tujuan pertama penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara persepsi terhadap dunia usaha dengan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi dan seberapa besar hubungan itu.
Dari hasil perhitungan diperoleh nilai a=38,44 dan b=0,37. Dengan
memasukkan nilai a dan b ke dalam persamaan regresi, maka diperoleh persamaan
regresi linear sederhana Y =38,44+0,37Xˆ 1. Untuk menguji kekuatan hubungan X1
terhadap Y, dilakukan uji linearitas dan signifikansi koefisien regresi. Analisis
terhadap berbagai sumber variasi menghasilkan nilai-nilai sebagaimana pada Tabel 1.








18
Tabel 1: Analisis Varians Untuk Uji Signifikansi dan Linearitas Y atas X1 dengan
Model Regresi Y =38,44+0,37Xˆ 1

Ftabel
Sumber
Varians Dk JK RJK Fhit
α=0,05 α=0,01
Total 100 5.677,2 - - - -
Reg (a)
Reg (b/a)
Sisa
1
98

697,9
4.979,3

776,4
50,1

15,5**

3,94

6,9
T.Cocok
Galat
30
68
1.843,6
3.057,2
61,5
44,9

1,4 ns

1,62

1,98
Keterangan:
** = Regresi sangat signifikan
JK = Jumlah Kuadrat
RJK = Rata-rata Jumlah Kuadrat
dk = Derajat kebebasan
ns = non signifikan
Dari Tabel ANAVA di atas tampak bahwa persamaan regresi
=38,44+0,37XYˆ 1 adalah linear dan signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa hubungan persepsi terhadap dunia usaha (X1) dengan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi (Y) adalah linear dan signifikan.
Selanjutnya diuji korelasi antara X1 dengan Y yang dilakukan dengan uji
Product Moment Correlation. Dari hasil pengujian diperoleh koefisien korelasi r
sebesar 0,37 dan koefisien determinasi r2=0,137. Setelah diketahui nilai koefisien
korelasi, maka dilanjutkan dengan uji keberartian korelasi dengan menggunakan uji-t.
Dari hasil pengujian diperoleh thitung sebesar 7,77, sedangkan dari daftar distribusi t
dengan taraf signifikansi α=0,01 dan derajat kebebasan 98 diperoleh ttabel=2,36. Jika

19
keduanya dibandingkan, maka diperoleh thitung lebih besar ttabel atau 7,768>2,36. Hal
ini berarti bahwa H0 ditolak. Ini berarti bahwa koefisien korelasi antara variabel X1
dengan variabel Y adalah sangat signifikan (lihat Tabel 2).

Tabel 2: Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Sederhana antara Persepsi terhadap Dunia
Usaha (X1) dengan Motivasi Berprestasi Mahasiswa Akuntansi (Y)

ttabel

N

Koefisien
Korelasi

Koef. Determ

thitung
α=0,05 α=0,01
100 0,37 0,137 7,77** 1,66 2,36
Keterangan:
** = sangat signifikan

Selanjutnya secara parsial hubungan antara X1 dengan Y dengan X2
dikontrol, dan diperoleh nilai koefisien ry1.2=0,37 dan nilai koefisien determinasi
r2
y1.2=0,14, nilai koefisien ry1.3=0,336 dan nilai koefisien determinasi r2
y1.3=0,11, nilai
koefisien ry1.23=0,3411 dan nilai koefisien determinasi r2
y1.23=0,12. Koefisien korelasi
parsial tersebut diuji keberartiannya dengan menggunakan uji t. Dari hasil
perhitungan diperoleh thitung untuk ry1.2 adalah 4,06; sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4. Jika
dibandingkan, thitung >ttabel atau 4,06>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak atau
korelasi parsial antara X1 dan Y dengan dikontrolnya X2 diterima secara signifikan
pada α=0,01. Perhitungan thitung untuk ry1.3 adalah 5,1, sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4,
jadi jika dibandingkan thitung >ttabel atau 5,1>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak dan
menerima H1 atau korelasi parsial antara X1 dan Y dengan dikontrolnya X3 diterima
secara signifikan pada α=0,01. Perhitungan thitung untuk ry1.23 adalah 3,35, sedangkan

20
ttabel=t0,01(97)=2,4. Jadi jika dibandingkan thitung >ttabel atau 3,35>2,40. Hal ini berarti
bahwa H0 ditolak atau korelasi parsial antara X1 dan Y dengan dikontrolnya X2, X3,
diterima secara signifikan pada α=0,01.
Dengan signifikannya hubungan antara X1 dan Y, baik secara sederhana
maupun parsial, maka disimpulkan bahwa hipotesis pertama yang berbunyi terdapat
hubungan antara persepsi terhadap dunia usaha dengan motivasi mahasiswa menjadi
akuntan diterima dan teruji secara signifikan pada α=0,01.
Tujuan kedua penelitian adalah untuk mengetahuai apakah terdapat
hubungan antara kecerdasan emosional dengan motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi dan seberapa besar hubungan itu.
Hubungan kedua variabel tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis
regresi dan korelasi sederhana. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai a=38,15 dan
b=0,33. Dengan memasukkan nilai a dan b ke dalam persamaan regresi, maka
diperoleh persamaan regresi linear sederhana Y =38,15+0,33Xˆ 2.
Selanjutnya untuk menguji kekuatan hubungan antara variabel X2 dengan
variabel Y, dilakukan uji kelinearan dan keberartian regresi. Hasil analisis terhadap
berbagai sumber variasi menghasilkan nilai-nilai sebagaimana disajikan pada Tabel 3.






21
Tabel 3: Analisis Varians Untuk Uji Signifikansi dan Linearitas Y atas X2 dengan
Model Regresi Y =38,15+0,33Xˆ 2

Ftabel
Sumber
Varians

Dk

JK

RJK

Fhitung
α=0,05

α=0,01

Total

100 5.677,2
- - - -
Reg (a)
Reg (b/a)
S i s a
1
98

989,27
4.687,9

989,27
47,84

20,7**

3,94

6,9

T. Cocok
G a l a t

37
61

1.949,1
2.738,9

52,68
44,90

1,17ns

1,59

1,9

Keterangan:
** = regresi sangat signifikan
JK = Jumlah Kuadrat
RJK = Rata-rata Jumlah Kuadrat
dk = derajat kebebasan
ns = regresi non signifikan
Dari Tabel ANAVA di atas tampak bahwa persamaan regresi
=38,15+0,33XYˆ 2 adalah linear dan signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa hubungan antara kecerdasan emosional (X2) dengan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi (Y) adalah linear dan signifikan.
Selanjutnya hubungan antara X2 dengan Y dilakukan dengan Uji Product
Moment Correlation. Dari hasil pengujian diperoleh koefisien korelasi r sebesar 0,42
dan koefisien determinasi r2=0,147. Setelah diketahui nilai koefisien korelasi, maka
dilanjutkan dengan uji keberartian korelasi dengan menggunakan uji-t. Dari hasil
pengujian diperoleh thitung sebesar 4,54, sedangkan dari daftar distribusi t dengan taraf
signifikansi α=0,01 dan derajat kebebasan 98 diperoleh ttabel=2,36. Jika keduanya

22
dibandingkan dan dikonsultasikan dengan kriteria pengujian, maka thitung lebih besar
daripada ttabel atau 4,54>2,36. Ini berarti bahwa H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa
koefisien korelasi antara variabel X2 dengan variabel Y adalah signifikan. Informasi
secara rinci disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4: Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Sederhana antara Kecerdasan Emosional
(X2) dengan Motivasi Berprestasi Mahasiswa Akuntansi (Y)

T tabel

N

Koefisien
Korelasi

Koefisien Determ

thitung
α=0,05 Α=0,01
100 0,42 0,147 4,54** 1,66 2,36
Keterangan:
**= sangat signifikan

Selanjutnya secara parsial hubungan antara X1 dengan Y dengan X2 dikontrol
dan diperoleh nilai koefisien ry2.1=0,4157 dan nilai koefisien determinasi r2
y2.1=0,17.
Nilai koefisien ry2.3=0,348 dan nilai koefisien determinasi r2
y2.3=0,12 dan nilai
koefisien ry2.13=0,29 dan nilai koefisien determinasi r2
y2.13=0,08. Selanjutnya
koefisien korelasi parsial diuji keberartiannya dengan menggunakan uji t. Dari hasil
perhitungan diperoleh thitung untuk ry2.1 adalah 4,49, sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4. Jika
dibandingkan thitung>ttabel atau 4,49>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak atau
korelasi parsial antara X2 dan Y dengan dikontrolnya X1 diterima secara signifikan
pada α=0,01. Perhitungan thitung untuk ry2.3 adalah 3,65, sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4.
Jadi jika dibandingkan thitung>ttabel atau 3,65>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 atau
korelasi parsial antara X1 dan Y dengan dikontrolnya X3 diterima secara signifikan

23
pada α=0,01. Perhitungan thitung untuk ry2.13 adalah 3,60, sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4.
Jadi jika dibandingkan thitung>ttabel atau 3,60>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak
atau korelasi parsial antara X2 dan Y dengan dikontrolnya X1, X3, diterima secara
signifikan pada α=0,01.
Dengan signifikannya hubungan antara X2 dan Y, baik secara sederhana
maupun parsial, maka disimpulkan bahwa hipotesis kedua yang berbunyi terdapat
hubungan antara sikap terhadap profesi akuntan dengan motivasi berprestasi maha-siswa akuntansi diterima dan teruji secara signifikan pada α=0,01.
Tujuan ketiga penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap
terhadap profesi akuntan dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi dan
seberapa besar hubungan itu.
Dari hasil perhitungan diperoleh nilai a=32,97 dan b=0,40. Dengan
memasukkan nilai a dan b ke dalam persamaan regresi, maka diperoleh persamaan
regresi linear sederhana Y =32,97+0,40Xˆ 3.
Selanjutnya untuk menguji kekuatan hubungan antara variabel X3 dengan
variabel Y, dilakukan uji kelinearan dan keberartian regresi. Hasil analisis terhadap
berbagai sumber variasi menghasilkan nilai-nilai sebagaimana dapat dilihat pada
Tabel 5.

24
Tabel 5. Analisis Varians Untuk Uji Signifikansi dan Linearitas Y atas X3 dengan Model
Regresi Y =32,97+0,40Xˆ 3

Ftabel
Sumber
Varians

dk

JK

RJK

Fhit
α=0,05

α=0,01

Total

100 5.677,24
- - - -

Reg (a)
Reg (b/a)
S i s a

1
98

1.447,59
4.229,65

1447,6
43,2

33,5**

3,9


6,9

T.Cocok
G a l a t

37
61

1.303,341
2.926,467

35,2
47,9

0,73ns

2,3

1,8

Keterangan:
** = regresi sangat signifikan
RJK = Rata-rata Jumlah Kuadrat
dk = derajat kebebasan
ns = regresi non signifikan
Dari Tabel ANAVA di atas tampak bahwa persamaan regresi
=32,97+0,40XYˆ 3 adalah linear dan signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa hubungan antara sikap terhadap profesi akuntan (X3) dengan motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi (Y) adalah linear dan signifikan. Selanjutnya
hubungan antara X2 dengan Y dilakukan dengan Uji Product Moment Correlation.
Dari hasil pengujian diperoleh koefisien korelasi r sebesar 0,51 dan koefisien
determinasi r2=0,26. Setelah diketahui nilai koefisien korelasi, maka dilanjutkan
dengan uji keberartian korelasi dengan menggunakan uji-t. Dari hasil pengujian
diperoleh thitung sebesar 5,79, sedangkan dari daftar distribusi t dengan taraf
signifikansi α=0,01 dan derajat kebebasan 98 diperoleh ttabel=2,36. Jika keduanya
dibandingkan dan dikonsultasikan dengan kriteria pengujian, maka thitung lebih

25
besar ttabel atau 5,79>2,36. Ini berarti bahwa H0 ditolak dan berarti koefisien korelasi
antara variabel X3 dengan variabel Y adalah signifikan (lihat Tabel 6).

Tabel 6: Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Sederhana antara Sikap terhadap Profesi
Akuntan (X3) dengan Motivasi Berprestasi Mahasiswa Akuntansi (Y)

t tabel

N

Koef.
Korelasi

Koefisien Determ.

t hitung
0,05 0,01
100 0,51 0,26 5,29** 1,66 2,36
Keterangan:
** = Sangat signifikan

Selanjutnya secara parsial hubungan antara X3 dengan Y dengan X2 dikontrol,
diperoleh nilai koefisien ry3.1=0,49, nilai koefisien determinasi r2
y3.1=0,23, nilai
koefisien ry3.2=046, nilai koefisien determinasi r2
y3.2=0,21, nilai koefisien ry3.12=0,44,
dan nilai koefisien determinasi r2
y3.12=0,19. Selanjutnya koefisien korelasi parsial
diuji keberartiannya dengan menggunakan uji t. Dari hasil perhitungan diperoleh
thitung untuk ry3.1=5,4; sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4. Jika dibandingkan thitung>ttabel atau
5.4>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak atau korelasi parsial antara X3 dan Y
dengan dikontrolnya X1, diterima secara signifikan pada α=0,01. Perhitungan thitung
untuk ry3.2=5,05, sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,4. Jadi jika dibandingkan thitung>ttabel atau
5,05>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak atau korelasi parsial antara X3 dan Y
dengan dikontrolnya X2 diterima secara signifikan pada α=0,01. Perhitungan thitung
untuk ry3.12 adalah 4,67, sedangkan ttabel=t0,01(97)=2,40. Jika dibandingkan thitung >ttabel
atau 4,67>2,40. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak atau korelasi parsial antara X3 dan Y

26
dengan dikontrolnya X1, X2 diterima secara signifikan pada α=0,01. Dengan
signifikannya hubungan antara X3 dan Y, baik secara sederhana maupun parsial,
maka disimpulkan bahwa hipotesis ketiga yang berbunyi terdapat hubungan antara
sikap terhadap profesi akuntan dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi
diterima dan teruji secara signifikan pada α=0,01.
Tujuan keempat penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan emosional, dan sikap
terhadap profesi akuntan secara bersama-sama dengan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi.
Hubungan antara variabel X1, X2 dan X3 akan dilihat melalui model regresi
multipel Y =aˆ 0+b1X1+b2X2+b3X3. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai a0=10,32;
b1=0,28; b2=0,24; dan b3=0,30. Dengan memasukkan nilai a, b1, dan b2, maka
diperoleh persamaan regresi multiple Y =10,32+0,28Xˆ 1+0,24X2+0,30X3.
Uji kelinearan regresi multipel tidak dilakukan dengan asumsi bahwa model
regresi multipel Y =10,32+0,28Xˆ 1+0,24X2+0,30X3 adalah linear. Uji signifikansi
koefisien regresi β1, β2, dan β3 menggunakan statistik uji F. Hasil uji tersebut
disajikan pada Tabel 7.





27
Tabel 7: Anava untuk Korelasi Jamak Y =10,32+0,28Xˆ 1+0,24X2+0,30X3

FtabelSumber
Varians
dk=ν JK RJK Fhit
α=0.05 α=0.01
Reg
Sisa


3
96

2.394,51
3.282,73

798,2
34,2
23,3** 2,7 3,98
Keterangan:
** = regresi sangat signifikan
JK = Jumlah Kuadrat
RJK = Rata-rata Jumlah Kuadrat
dk = derajat kebebasan
Dari Tabel di atas diperoleh nilai Fhitung sebesar 23.34, sedangkan dari daftar
distribusi F dengan derajat kebebasan pembilang ν1=3 dan derajat kebebasan
penyebut ν2=96 pada taraf signifikansi α=0,01 diperoleh F0,01(3;96) sebesar 3,98. Jika
keduanya dibandingkan, maka Fhitung>Ftabel atau 23,34>3,98. Karena Fhitung>Ftabel,
maka menurut kriteria pengujian, H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa koefisien arah
regresi β1 dan β2 adalah signifikan.
Setelah teruji keberartian regresi multipel, maka langkah berikutnya adalah
menguji korelasi multipel antara variabel X1, X2, dan X3 dengan variabel Y. Dengan
menggunakan analisis korelasi multipel, diperoleh hasil perhitungan koefisien
korelasi multipel ρy.123 sebesar 0,649 dan koefisien determinasi ρ2
y.123 sebesar 0,422.
Selanjutnya dilakukan uji keberartian terhadap koefisien korelasi multipel dengan
menggunakan uji F. Dari hasil perhitungan diperoleh Fhitung sebesar 23,342 dan pada

28
taraf signifikansi α=0,01 dengan dk pembilang ν1=3 dan dk penyebut ν2=96
diperoleh Ftabel sebesar 3,98. Jika keduanya dibandingkan, maka Fhitung>Ftabel atau
23,42>3,98. Oleh karena Fhitung>Ftabel, maka menurut kriteria pengujian, H0 ditolak
dan ini berarti korelasi multipel antara X1, X2, dan X3 dengan Y adalah signifikan.
Hasil perhitungan tersebut disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8: Uji signifikansi Koefisien Korelasi Jamak

F table

Korelasi

Koef
Kor

Koef
Deter

F hitung
α=0,05 Α=0,01
Ry123 0,649 0,421 23,43** 2,70 3,98
Keterangan:
** = Sangat signifikan

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis keempat yang berbunyi:
“Terdapat hubungan positif antara persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan
emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan secara bersama-sama dengan motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi” diterima dan teruji secara signifikan pada α=0,01.
Dari bahasan uji hipotesis satu, hipotesis dua, dan hipotesis tiga, dapat
dirangkum analisis koefisien korelasi dengan faktor-faktor lain dikontrol, sehingga
dapat diperingkat seperti pada Tabel 9.





29
Tabel 9: Peringkat Kekuatan Hubungan antara Variabel (X1) dengan Mengontrol
Variabel (X2) dan (X3); Variabel (X2) dengan mengontrol Variabel (X1) dan
(X3); Variabel (X3) dengan mengontrol Variabel (X1) dan (X2)

Nomor N Koefisien Korelasi Peringkat
1 100 ry3.12 = 0,44 Pertama
2 100 ry2.13 = 0,35 Kedua
3 100 ry1.32 = 0, 34 Ketiga

Dari Tabel tersebut disimpulkan bahwa peringkat kekuatan hubungan masing-masing variabel terhadap variabel terikat menunjukkan bahwa variabel sikap terhadap
profesi akuntan (X3) dengan ry3.12=0,44 menempati peringkat pertama, variabel
kecerdasan emosional (X2) dengan ry2.13=0,35 menempati peringkat kedua, dan
variabel persepsi terhadap dunia usaha (X1) dengan ry1.32=0, 34 menempati urutan
ketiga dalam hubungannya dengan variabel motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi
(Y).

5. Simpulan dan Saran
5.1 Simpulan
Pertama, terdapat hubungan positif dan signifikan antara persepsi terhadap
dunia usaha dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Hal ini berarti bahwa
makin positif persepsi mahasiswa terhadap dunia usaha, maka makin tinggi motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi. Demikian sebaliknya, makin negatif persepsi
mahasiswa terhadap dunia usaha, makin rendah pula motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi.
Kedua, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan
emosional dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Hal ini berarti bahwa

30
makin tinggi kecerdasan emosional mahasiswa, makin tinggi pula motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi. Demikian pula sebaliknya, makin rendah
kecerdasan emosional mahasiswa, makin rendah pula motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi.
Ketiga, terdapat hubungan positif dan signifikan antara sikap terhadap profesi
akuntan dengan motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Hal ini berarti bahwa
makin positif sikap terhadap profesi akuntan seorang mahasiswa, makin tinggi pula
motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Demikian sebaliknya, makin negatif sikap
terhadap profesi akuntan, akan makin rendah pula motivasi berprestasi mahasiswa
akuntansi.
Keempat, terdapat hubungan antara persepsi terhadap dunia usaha, kecerdasan
emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan secara bersama-sama dengan motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi. Artinya peningkatan motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi dapat diprediksi melalui peningkatan persepsi terhadap dunia
usaha, kecerdasan emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan. Ini berarti pula
bahwa makin positif persepsi terhadap dunia usaha, makin tinggi tingkat kecerdasan,
dan makin positif sikap terhadap profesi akuntan, makin tinggi motivasi berprestasi
mahasiswa akuntansi.
5.2 Saran

Perguruan Tinggi Swasta “X” perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh
faktor motivasi berprestasi mahasiswa akuntansi. Motivasi tinggi akan memudahkan
mahasiswa mengikuti proses belajar-mengajar.

31
Variabel-variabel yang dapat menentukan naik atau turunnya motivasi
berprestasi mahasiswa akuntansi seperti persepsi mahasiswa terhadap dunia usaha,
kecerdasan emosional, dan sikap terhadap profesi akuntan harus mendapat perhatian
pengelola program studi akuntansi. Hal-hal yang disarankan adalah:
1) Dalam rangka meningkat wawasan mahasiswa akuntansi terhadap dunia usaha,
perlu dilaksanakan program visit to company, yaitu mengunjungi perusahaan yang
ada di sekitar Jabotabek, dan meningkatkan frekuensi kuliah umum atau seminar
dengan menampilkan pembicara dari pelaku bisnis yang sukses;
2) Dalam rangka meningkatkan kecerdasan emosional, kampus harus dapat
menstimulus mahasiswa untuk dapat meningkatkan empati dan saling menghargai
antar- sesama. Untuk itu Etika Pergaulan perlu dibuat dan dilaksanakan sebagai
rambu-rambu dalam pergaulan di kampus dan dalam rangka membangun budaya
saling menghargai antara sesama warga kampus. Di samping itu, keteladanan dari
pimpinan, dosen, dan seluruh jajaran non akademik akan menjadi inspirasi bagi
mahasiswa untuk meningkatkan empati dan saling menghargai. Kemudian
mendorong mahasiswa aktif berorganisasi untuk melatih berkomunikasi dan
melatih pengendalian diri;
3) Dalam rangka meningkatkan sikap positif mahasiswa terhadap profesi akuntan,
perlu disosialisasikan keberadaan, perkembangan, peran, dan peluang karir yang
ada pada profesi akuntan dan meningkatkan pemahaman tentang kode etik profesi,
ruang lingkup wewenang dan tanggungjawab profesi akuntan, serta meningkatkan
kualitas pendidikan karakter positif; dan

32
4) Pendidikan karakter positif (sikap positif, kecerdasan emosional yang baik, dan
persepsi positif) hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Lembaga
pendidikan berfungsi lebih banyak sebagai arena penguatan perilaku positif.
Pendidikan karakter positif merupakan bagian yang melekat dan terintegrasi secara
alami dengan proses mengajar, dan pendidikan karakter positif bukan merupakan
suatu mata kuliah tersendiri, tetapi bagian yang terintegrasi dengan seluruh mata
kuliah.
















33
Pustaka Acuan

Alfred, Binet dan Simon, Teodore. 1996. Pengantar Psikologi Inteligensi.
Terjemahan Saifudin Azwar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Azwar, Saifudin. 1995. Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Baron, Robert A. 1992. Behavioral in Organizations: Understanding & Managing
The Human Side of Work. New Jersey: Prentice Hall.

Denny, Richard. 1994. Sukses Memotivasi: Jurus Jitu Meningkatkan Prestasi.
Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum.

Edwards, Allen L. 1975. Techniques of Attitude Scale Construction. New York:
Appleton-Century Crofts.

Feldman, Robert S. 1990. Essential of Understanding Psychology. New York:
McGraw-Hill Companies, Inc.

Gagne, Robert M. 1977. The Condition of Learning. New York: Rinehart and
Winstone Inc.

Goleman, Daniel. 1996. Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
utama.

Gregory, Robert J. 2000. Psychological Testing: History, Principles and Application.
Boston: Allyn and Bacon.

Haasen, Adolf dan Shea, Gordon F. 1970. A Better Place to Work a New Sense of
Motivation Leading High Productivity. New York: AMA Membership
Management Briefing.

Hersey, Paul dan Blanchard, Kenneth H. 1990. Management: Organizational
Behavior. New Jersey: Prentice Hall.

Kiam, Victor. 1999. Enterpreneurial Quotient. http://www.eq.com/about.ep.html.

Lewis, Robert T. dan Peterson, Hugh. 1974. Human Behavior: An Introduction to
Psychology. New York: The Ronald Press Company.

McGaugh, James L. 1977. Psychology: An Experiment Approach. San Francisco:
Albion Publishing Company.


34
Mclelland, David. 1985. Human Motivation. USA: Scott Foreshman and Co.

McMahon, Frank B. dan McMahon, Yudith W. 1986. Psychology: The Hybrid
Science. Chicago: The Dorsey Press.

Prakarsa, Wahyudi. 1998. Transformasi Pendidikan Akuntansi Menuju Globalisasi.
IAI, Kongres VIII.

Semiawan, Conny R. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT.
Gramedia Widiasarana.

Shapiro, Lawrence E. 1998. Emotional Intelligence. Terjemahan Alex Tri Kuntjoro.
Jakarta: PT. Gramedia.

Siagian, Dergibson dan Sugiarto. 2000. Metode Statistik Untuk Bisnis dan Ekonomi.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Stoner, James A. dan Wankel, Charles. 1986. Manajemen. terjemahan W. Bakowatun
dan Bvosco Carvallo. Jakarta: CV Intermedia.

Sudarsono, J. et al. 2002. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Jakarta: Prenhallindo.

Sudjana. 1992. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi Bagi Para Peneliti. Bandung:
Tarsito.

Travers, Robert M.W. 1982. Essential of Learning the New Cognitive Learning for
Student of Education. USA: Mcmillan Publisher Co.

Woolfolk, Anita E. 1993. Educational Psychology. Boston: Allyn and Bacon.


35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar